You need to enable javaScript to run this app.

RIWAYAT SI-POHON PISANG

  • Senin, 24 Februari 2025
  • Admin Kecamatan Sangir Balai Janggo
  • 0 komentar
RIWAYAT SI-POHON PISANG

Renungan Sya'ban 1446 H

Oleh : Muslim, S.Pd

Camat Sangir Balai Janggo Kab Solok Selatan, Sumatera Barat

 

Parawik pisau Sirawik, ka alu batang lintabuang silodang jadikan niru, Satitiak jadikan lawik, sagumpa jadikan Gunuang alam takambang jadi guru.

 

Sebuah pantun Minangkabau yang mestinya diingat. Artinya setetes jadikan laut, segumpal jadikan gunung, alam terkembang jadikan guru. Pantun yang mengisyaratkan agar kita selalu belajar kepada tanda-tanda alam , dan ambil hikmah yang tersirat pada setiap peristiwa. Pada kesempatan ini saya mengajak pembaca untuk merenungi “ Riwayat Si-Pohon Pisang”.

 

Pohon pisang yang kita kenal dalam arti denotasi adalah semacam tanaman yang buahnya enak dimakan dan mengandung karbohidrat, sedangkan daun dan batangnya berguna untuk keperluan lain dalam kehidupan sehari hari. Dalam pengertian konotasi tersirat sebagai pedoman dalam kehidupan.

 

Di zaman dulu kala daun pisang sangat bermanfaat sebagai payung. Ketika diperjalanan tiba-tiba datang hujan orang-orang akan tingak-tinguk melirik kiri dan kanan mencari pohon pisang dipinggir jalan, begitu kelihatan langsung dipangkas dan dijadikan payung. Namun setelah hujan reda, tanpa pikir panjang daun pisang lantas dibuang begitu saja (palapeh sasak). Si-Pohon Pisang yang tahu akan kodratnya tidak pernah melakukan protes, diterima nasip apa adanya. Daun yang terbuang tersebut kemudian layu dan kering (menjadi karisiak). Ibu-ibu datang memungut dan diambil sebagai bahan pembungkus makanan, seperti; pembungkus lepat (lapek), pembungkus gula aren dan sebagainya. Karisiak sangat bagus untuk pembungkus gula aren kendati kini telah terlupakan, manusia cendrung menggunakan plastik sebagai bahan pengemas, meskipun untuk pembungkus gula aren dan pepes ikan (ikan palai) tidak lah patut.

Pohon Pisang bisa hidup di mana saja dan mudah menyesuaikan diri, dan selalu memberi manfaat bagi yang lain, seperti; menjadi pendingin tanah, peneduh hewan sekitarnya seperti cacing tanah dan bakicot. Pisang hidup berkelompok, tidak lazim bila pisang hidup menyendiri, dia selalu berada di tengah-tengah anak cucunya dan berfungsi sebagai pengasuh, penopang dan pelindung kaum lemah, terutama bagi anak cucu dan karib kerabatnya. Begitu angin datang yang lemah akan bersandar kepada yang kuat, bahu-membahu dan membentuk pertahanan. Pohon pisang tidak mau hidup terpencar dari kawan-kawannya dan selalu berumpun. Filosofinya kebersamaan, persatuan dan kesatuan.

 Dalam pertumbuhan karakter pohon pisang selalu patuh dan taat aturan. Misalnya dalam proses pembuahan, jika kakaknya sedang berbuah adiknya baru berjantung, setelah kakaknya dipanen adiknya baru berbuah. Disaat Kakaknya sedang berbuah adik-adiknya berperan sebagai penopang dan melindungi kakaknya. Artinya mereka tidak mau saling berebutan dan saling mendahului untuk berbuah. Sedikitpun tak pernah terpikir dibenaknya untuk berbuah lebih duluan dari pada seniornya. Karena dia sangat yakin bahwa kelak dirinya juga akan berjantung dan berbuah. Konsep pengkaderan yang utuh modal utama bagi si- Pohon pisang untuk mencapai visi, misi dan tujuan hidupnya.

Pohon pisang juga sosok satria sejati. Dalam perjuangannya tak pernah memikirkan hidupnya yang relatif singkat. Baginya hidup dan mati harus bermakna. Sifat kepahlawanan yang pantas dicontoh ialah “ pohon pisang tidak mau mati sebelum berbuah “. Kegigihan pohon pisang dalam memberikan maafaat hidupnya patut ditiru. Umpamakan Pohon pisang tumbuh di tanah yang tandus dan di bawah pohon-pohon besar sekalipun , di bawah pohon jengkol misalnya namun hasrat untuk hidup dan memberi manfaat tak kan pernah sirna. Tumbuh kerdil dan bungkuk di bawah himpitan pepohan besar bahkan patah, namun jantungnya berusaha menembus batang untuk berjantung dan berbuah, meskipun hanya mengeluarkan satu sisir buah.

Di pengujung usianya Si-Pohon Pisang terpaku merenungi dirinya. Dia teringat akan masa-masa lalunya yang jaya. Ketika itu batangnya gagah berdiri kokoh, waktu itu tidak seekor makhlukpun yang berani mengganggunya. Banyak makhluk yang datang berkerumun di sekelilingnya. Apa lagi ketika musim berjantung telah tiba, burung (ciroceh), kupu-kupu dan lebah akan ramai-ramai datang sekedar untuk menghisap rasa madu yang manis di jantungnya. Para cacing tanah dan bakicot sangat nyaman berteduh dipangkalnya yang dingin dan menyejukan itu.

Kini tinggal kenangan manis yang terlalu pahit untuk dikenang, hari-hari kian senja, merah telah memerah di upuk Barat, pertanda hari-hari akan malam dan kelam. Daun yang hijau berangsur kuning, batang yang kokoh telah lemah. Jika batang sudah condong kura-kura pun pandai memanjatnya, ulat dan cacing tanah pun berkeinginan untuk menikmati tubuhnya. Burung Ciroceh, kupu-kupu dan lebah yang selalu mengerumuninya, satu-persatu sudah berterbangan dan meninggalkannya. Akhir riwayat si-pohon pisang, petani pun datang dengan pedang terhunus seraya menumbang dan memotong-motong dirinya, Buah diambil batang pun dicincang dan dionggok disela-sela anak dan cucunya. Beberapa hari kemudian Si-Pohon Pisang mulai membusuk, dalam rintihan digigit ulat dan cacing tanah terucap kata terakhir Sang Kesatria, “Ku ikhlaskan seluruh raga dan jiwaku sebagai pupuk untuk kesuburan anak cucuku “.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

MUSLIM, S.Pd

- Camat Sangir Balai Janggo -

Nama Lengkap  : MUSLIM, S.Pd NIP : 19700808 199203 1 006 Tempat/ Tanggal Lahir  : Sungai Sungkai/ 8 Agustus...

Berlangganan
Jajak Pendapat

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website ini ?

Hasil
Banner